KATA PENGANTAR
Alhamdulillah
tidak lupa kami panjatkan trhadap kehadirat Allah SWT, sehingga kami dapat
menyelesaikan penulisan tugas makalah Bahasa Indonesia ini. Dalam proses
pengumpulan data-data dan juga proses pembuatan makalah ini tidak lepas dari kerja
keras kelompok kami. Makalah yang kami buat adalah mengenai EYD khususnya dalam
penggunaan tanda baca, yang di masa kini kurang begitu diperhatikan dan jarang
dipergunakan dalam suatu kepentingan yang non formal.
Semoga dengan
makalah yang kami buat ini dapat menambah pengetahuan dan pemahaman kita
tentang seberapa pentingnya penggunaan tanda baca yang benar sesuai dengan EYD.
Kami sadar dalam penulisan makalah ini banyak terdapat beberapa kekurangan.
Akan tetapi kami yakin makalah ini dapat bermanfaat buat kita semua. Selamat
membaca
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sering kali kita mendengar orang-orang Indonesia
yang menggunakan bahasa yang tidak baku dalam kegiatan-kegiatan resmi atau
menggunakan kata serapan yang salah, bahkan dalam penulisanpun masih terjadi
kesalahan penggunaan tanda baca, sehingga mengakibatkan kesalahan makna,
padahal Pemerintah Indonesia telah membuat aturan-aturan resmi tentang tata
bahasa baik itu kata serapan maupun penggunaan tanda baca. Pelajaran Bahasa Indonesia
sebenarnya sudah diajarkan sejak dari Sekolah Dasar (SD) sampai ke perguruan
tinggi. Tapi kesalahan ini masih sering terjadi, bahkan berulang-ulang kali.
Ketidak fahaman terhadap tata bahasa Yang mengkhawatirkan ialah ketika aturan
ini terlalu sering diacuhkan oleh masyarakat Indonesia, karena salah satu
dampak negatifnya ialah hal ini akan dianggap lazim oleh masyarakat Indonesia
terlebih lagi oleh anak-cucu yang akan menjadi penerus negeri ini, karena akan
mempersulit masyarakat dalam berkomunikasi.
Maka dari itu dalam makalah ini, penulis akan
memaparkan bagaimana tata bahasa yang benar tentang kata serapan dan
tanda-tanda baca, sehingga kita memahami dan dapat menerapkan aturan berbahasa
yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari terlebih dalam acara-acara
resmi.
B. Rumusan Masalah
Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah
tentang enulisan kata serapan dan penggunaan tanda baca ini ialah:
a.
Apa
yang dimaksud dengan tanda baca.
b. Apasaja jenis-jenis dari
tanda baca.
c. Apasaja contoh-contoh
penggunaan dari tanda baca.
C. Tujuan
Makalah ini disusun agar kita semua lebih
memahami tentang tata bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Sehingga dapat
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar dalam setiap komunikasi, kita akan
dipermudah dengan adanya satu bahasa yang baku dan dapat dimengerti oleh setiap
golongan masyarakat Indonesia serta mempermudah dalam mencari referensi, karena
segala hal tentang kata serapan dan penggunaan tanda baca telah terangkum dalam
satu makalah ini.
Dan ini juga akan dipersentasikan dikelas dalam
mata kuliah Bahasa Indonesia. Serta penyusun mengharapkan dengan makalah ini
dapat menyadarkan kepada seluruh masyarakat Indonesia tentang bagaimana
pentingnya penggunaan tata bahasa yang benar, sehingga selanjutnya
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tanda baca
Tanda baca adalah simbol yang tidak berhubungan dengan fonem (suara) atau kata dan frasa pada suatu bahasa, melainkan berperan
untuk menunjukkan struktur dan organisasi suatu tulisan, dan juga intonasi serta jeda yang dapat
diamati sewaktu pembacaan. Aturan tanda baca berbeda antar bahasa, lokasi,
waktu, dan terus berkembang. Beberapa aspek tanda baca adalah suatu gaya
spesifik yang karenanya tergantung pada pilihan penulis.
B. Jenis-Jenis Tanda Baca dan Contoh Penggunaannya
1. Tanda Titik ( . )
Contoh: Saya suka makan
nasi.
Apabila dilanjutkan
dengan kalimat baru, harus diberi jarak satu ketukan.
b. Tanda titik dipakai pada akhir
singkatan nama orang.
Contoh:
Ø Irwan
S. Gatot
Ø George
W. Bush
Apabila
nama itu ditulis lengkap, tanda titik tidak dipergunakan.
Contoh: Anthony Tumiwa
Contoh: Anthony Tumiwa
c.
Tanda titik
dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.
Contoh:
Ø Dr. (doktor)
Ø S.E. (sarjana ekonomi)
Ø Kol. (kolonel)
Ø Bpk. (bapak)
d. Tanda titik dipakai pada singkatan
kata atau ungkapan yang sudah sangat umum. Pada singkatan yang terdiri atas
tiga huruf atau lebih hanya dipakai satu tanda titik.
Contoh:
Contoh:
Ø dll. (dan lain-lain)
Ø dsb. (dan sebagainya)
Ø tgl. (tanggal)
Ø hlm. (halaman)
e. Tanda titik dipakai untuk
memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu atau jangka
waktu.
Contoh:
Ø Pukul 7.10.12 (pukul 7
lewat 10 menit 12 detik)
Ø 0.20.30 jam (20 menit,
30 detik)
f. Tanda titik dipakai untuk
memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Contoh: Kota kecil itu berpenduduk 51.156 orang.
Contoh: Kota kecil itu berpenduduk 51.156 orang.
g. Tanda titik tidak dipakai untuk
memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.
Contoh:
Ø Nama Ivan terdapat pada
halaman 1210 dan dicetak tebal.
Ø Nomor Giro 033983 telah
saya berikan kepada Mamat.
h. Tanda titik tidak dipakai dalam
singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau
organisasi, serta nama dokumen resmi maupun di dalam akronim yang sudah
diterima oleh masyarakat.
Contoh:
Ø DPR (Dewan Perwakilan
Rakyat)
Ø SMA (Sekolah Menengah
Atas)
Ø PT (Perseroan Terbatas)
Ø WHO (World Health
Organization)
Ø UUD (Undang-Undang
Dasar)
Ø SIM (Surat Izin
Mengemudi)
Ø Bappenas
(Badan Perencanaan Pembangunan Nasional)
i.
Tanda titik
tidak dipakai dalam singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan,
dan mata uang.
Contoh:
Ø Cu (tembaga)
Ø 52 cm
Ø l (liter)
Ø Rp350,00
j.
Tanda titik tidak dipakai pada
akhir judul yang merupakan kepala karangan, atau kepala ilustrasi, tabel, dan
sebagainya.
Contoh:
Ø Latar Belakang
Pembentukan
Ø Sistem Acara
Ø Lihat Pula
2. Tanda Koma (,)
a. Tanda koma dipakai di antara
unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.
Contoh: Saya menjual
baju, celana, dan topi.
Contoh penggunaan yang
salah: Saya membeli udang, kepiting dan ikan.
b. Tanda koma dipakai untuk
memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang berikutnya, yang
didahului oleh kata seperti, tetapi, dan melainkan.
Contoh: Saya bergabung
dengan Wikipedia, tetapi tidak aktif.
c. Tanda koma dipakai untuk
memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut
mendahului induk kalimatnya.
Contoh:
Ø Kalau
hari hujan, saya tidak akan datang.
Ø Karena sibuk, ia lupa
akan janjinya.
d. Tanda koma tidak dipakai untuk
memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut
mengiringi induk kalimat.
Contoh:
Saya tidak akan datang kalau hari hujan.
e. Tanda koma dipakai di belakang
kata atau ungkapan penghubung antara kalimat yang terdapat pada awal kalimat.
Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun
begitu, akan tetapi.
Contoh:
Ø Oleh
karena itu, kamu harus datang.
Ø Jadi,
saya tidak jadi datang.
f. Tanda
koma dipakai di belakang kata-kata seperti o, ya,
wah, aduh, kasihan, yang terdapat pada awal kalimat.
Contoh:
Ø O,
begitu.
Ø Wah,
bukan main.
g. Tanda
koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung
dari bagian lain dalam kalimat.
Contoh:
Kata adik, "Saya sedih sekali".
h. Tanda
koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii)
bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan
wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Contoh:
Ø Medan,
18 Juni 1984
Ø Medan,
Indonesia.
i.
Tanda koma
dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar
pustaka.
Contoh: Lanin, Ivan,
1999. Cara Penggunaan Wikipedia. Jilid 5 dan 6. Jakarta: PT Wikipedia
Indonesia.
j.
Tanda koma
dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.
Contoh:
I. Gatot, Bahasa Indonesia untuk Wikipedia. (Bandung: UP Indonesia, 1990), hlm.
22.
k.
Tanda koma
dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk
membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
Contoh:
Rinto Jiang, S.E.
l.
Tanda koma
dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang
dinyatakan dengan angka.
Contoh:
Ø 33,5
m
Ø Rp10,50
m. Tanda
koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang
sifatnya tidak membatasi
Contoh:
pengurus Wikipedia favorit saya, Borgx, pandai sekali.
n.
Tanda koma
dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada
awal kalimat.
Contoh: Dalam pembinaan
dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh.
Bandingkan dengan: Kita
memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam pembinaan dan pengembangan
bahasa.
o.
Tanda koma tidak dipakai untuk
memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat
jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.
Contoh: "Di mana
Rex tinggal?" tanya Steph
een.
een.
3. Tanda Titik Koma (;)
a.
Tanda titik koma dapat dipakai untuk
memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Contoh: Malam makin
larut; kami belum selesai juga.
b.
Tanda titik koma dapat dipakai untuk
memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti
kata penghubung.
Contoh: Ayah mengurus
tanamannya di kebun; ibu sibuk bekerja di dapur; adik menghafalkan nama-nama
pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran pilihan pendengar.
4. Tanda Titik Dua (:)
a.
Tanda titik dua dipakai pada akhir
suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.
Contoh:
Ø
Kita sekarang memerlukan
perabotan rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
Ø
Fakultas itu mempunyai dua
jurusan: Ekonomi Umum dan Ekonomi Perusahaan.
b.
Tanda titik dua
dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Contoh:
Ketua
: Borgx
Wakil Ketua
:
Hayabuse
Sekretaris
: Ivan Lanin
Wakil Sekretaris
: Irwan Gatot
Bendahara
: Rinto Jiang
c.
Tanda titik dua
dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Contoh:
Borgx : "Jangan lupa perbaiki halaman bantuan Wikipedia!"
Borgx : "Jangan lupa perbaiki halaman bantuan Wikipedia!"
Rex
: "Siap, Boss!"
d.
Tanda titik dua
dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di antara bab dan ayat
dalam kitab-kitab suci, atau (iii) di antara judul dan anak judul suatu
karangan.
Contoh:
(i)
Tempo, I (1971), 34:7
(ii)
Surah Yasin:9
(iii)
Karangan Ali Hakim, Pendidikan
Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit.
e.
Tanda titik dua
dipakai untuk menandakan nisbah (angka banding).
Contoh: Nisbah siswa laki-laki terhadap perempuan ialah 2:1.
Contoh: Nisbah siswa laki-laki terhadap perempuan ialah 2:1.
f.
Tanda titik dua
tidak dipakai kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang
mengakhiri pernyataan.
Contoh:
Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.
5. Tanda Hubung (-)
a.
Tanda hubung
menyambung unsur-unsur kata ulang.
Contoh:
anak-anak, berulang-ulang, kemerah-merahan
Tanda
ulang singkatan (seperti pangkat 2) hanya digunakan pada tulisan cepat dan
notula, dan tidak dipakai pada teks karangan.
b.
Tanda hubung
menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.
Contoh:
Ø
p-e-n-g-u-r-u-s
Ø
8-4-1973
c.
Tanda hubung dapat dipakai untuk
memperjelas hubungan bagian-bagian ungkapan.
Bandingkan:
Bandingkan:
Ø ber-evolusi dengan
be-revolusi
Ø dua puluh lima-ribuan
(20×5000) dengan dua-puluh-lima-ribuan (1×25000).
Ø Istri-perwira yang ramah
dengan istri perwira-yang ramah
d.
Tanda hubung dipakai untuk
merangkaikan (a) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf
kapital; (b) ke- dengan angka, (c) angka dengan -an, (d)
singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan (e) nama jabatan
rangkap.
Contoh:
Contoh:
Ø se-Indonesia
Ø hadiah ke-2
Ø tahun 50-an
Ø ber-SMA
Ø KTP-nya nomor 11111
Ø sinar-X
Ø Menteri-Sekretaris
Negara
e.
Tanda hubung dipakai untuk
merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Contoh:
Ø di-charter
Ø pen-tackle-an
6. Tanda
Pisah (–, —)
a.
Tanda pisah em
(—) membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberikan penjelasan khusus di
luar bangun kalimat.
Contoh:
Wikipedia Indonesia—saya harapkan—akan menjadi Wikipedia terbesar.
b.
Tanda pisah em
(—) menegaskan adanya posisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi
lebih tegas.
Contoh:
Rangkaian penemuan ini—evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom—telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.
Rangkaian penemuan ini—evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom—telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.
c.
Tanda pisah en
(–) dipakai di antara dua bilangan atau tanggal yang berarti sampai dengan atau
di antara dua nama kota yang berarti 'ke', atau 'sampai'.
Contoh:
Contoh:
Ø
1919–1921
Ø
Medan–Jakarta
Ø
10–13 Desember 1999
d.
Tanda pisah en
(–) tidak dipakai bersama perkataan dari dan antara, atau bersama
tanda kurang (−).
Contoh:
Ø
dari halaman 45 sampai 65, bukan
dari halaman 45–65
Ø
antara tahun 1492 dan 1499, bukan antara
tahun 1492–1499
Ø
−4 sampai −6 °C, bukan −4–−6 °C
7. Tanda Elipsis (...)
a.
Tanda elipsis dipakai dalam kalimat
yang terputus-putus, misalnya untuk menuliskan naskah drama.
Contoh: Kalau begitu ...
ya, marilah kita bergerak.
b.
Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam
suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan, misalnya dalam kutipan
langsung.
Contoh:
Sebab-sebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut.
Jika bagian yang
dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah titik; tiga
buah untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir kalimat.
Contoh: Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati ....
Contoh: Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati ....
8. Tanda Tanya (?)
a.
Tanda tanya
dipakai pada akhir tanya.
Contoh:
Ø
Kapan ia berangkat?
Ø
Saudara tahu, bukan?
Penggunaan kalimat tanya
tidak lazim dalam tulisan ilmiah.
b.
Tanda tanya
dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan
atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
Contoh:
Contoh:
Ø
Ia dilahirkan pada tahun 1683 (?).
Ø
Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.
9. Tanda Seru (!)
Tanda seru dipakai sesudah
ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan
kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.
Contoh:
Contoh:
Ø Alangkah mengerikannya
peristiwa itu!
Ø Bersihkan meja itu
sekarang juga!
Ø Sampai
hati ia membuang anaknya!
Ø Merdeka!
Oleh karena itu,
penggunaan tanda seru umumnya tidak digunakan di dalam tulisan ilmiah atau
ensiklopedia. Hindari penggunaannya kecuali dalam kutipan atau transkripsi
drama.
10. Tanda Kurung ((...))
a.
Tanda kurung
mengapit keterangan atau penjelasan.
Contoh: Bagian Keuangan
menyusun anggaran tahunan kantor yang kemudian dibahas
dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) secara berkala.
b.
Tanda kurung
mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok
pembicaraan.
Contoh:
Ø
Satelit Palapa (pernyataan sumpah yang
dikemukakan Gajah Mada) membentuk sistem satelit domestik di Indonesia.
Ø
Pertumbuhan penjualan tahun ini (lihat Tabel 9)
menunjukkan adanya perkembangan baru dalam pasaran dalam negeri.
c.
Tanda kurung mengapit huruf atau
kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.
Contoh:
Contoh:
Ø
Kata cocaine
diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a)
Ø
Pembalap itu berasal dari (kota) Medan.
d.
Tanda kurung mengapit angka atau
huruf yang memerinci satu urutan keterangan.
Contoh: Bauran Pemasaran menyangkut masalah (a) produk, (b) harga, (c) tempat, dan (c) promosi.
Contoh: Bauran Pemasaran menyangkut masalah (a) produk, (b) harga, (c) tempat, dan (c) promosi.
Hindari penggunaan dua
pasang atau lebih tanda kurung yang berturut-turut. Ganti
tanda kurung dengan koma, atau tulis ulang kalimatnya.
Contoh:
Ø
Tidak tepat: Nikifor Grigoriev (c. 1885–1919)
(dikenal juga sebagai Matviy Hryhoriyiv) merupakan seorang pemimpin Ukraina.
Ø
Tepat: Nikifor Grigoriev (c. 1885–1919), dikenal
juga sebagai Matviy Hryhoriyiv, merupakan seorang pemimpin Ukraina.
Ø
Tepat: Nikifor Grigoriev (c. 1885–1919)
merupakan seorang pemimpin Ukraina. Dia juga dikenal sebagai Matviy Hryhoriyiv.
11. Tanda Kurung Siku ([...])
a.
Tanda kurung siku mengapit huruf, kata,
atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian
kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau
kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.
Contoh:
Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
b.
Tanda kurung siku
mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.
Contoh: Persamaan kedua
proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman 35–38])
perlu dibentangkan di sini.
12. Tanda Petik ("...")
a.
Tanda petik mengapit petikan
langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.
Contoh:
Ø
"Saya belum
siap," kata Mira, "tunggu sebentar!"
Ø
Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, "Bahasa negara
ialah Bahasa Indonesia."
b.
Tanda petik mengapit judul syair,
karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
Contoh:
Contoh:
Ø
Bacalah "Bola Lampu" dalam buku Dari
Suatu Masa, dari Suatu Tempat.
Ø
Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul
"Rapor dan Nilai Prestasi di SMA" diterbitkan dalam Tempo.
Ø
Sajak "Berdiri Aku" terdapat pada
halaman 5 buku itu.
c.
Tanda petik mengapit istilah ilmiah
yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
Contoh:
Ø
Pekerjaan itu dilaksanakan
dengan cara "coba dan ralat" saja.
Ø
Ia bercelana panjang yang
di kalangan remaja dikenal dengan nama "cutbrai".
d.
Tanda petik penutup
mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
Contoh: Kata Tono, "Saya juga minta satu."
Contoh: Kata Tono, "Saya juga minta satu."
e.
Tanda baca penutup kalimat
atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit
kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau
bagian kalimat.
Contoh:
Ø
Karena warna kulitnya, Budi
mendapat julukan "Si Hitam".
Ø
Bang Komar sering disebut "pahlawan";
ia sendiri tidak tahu sebabnya.
13. Tanda Petik Tunggal ('...')
a.
Tanda petik tunggal
mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
Contoh:
Contoh:
Ø
Tanya Basri, "Kau
dengar bunyi 'kring-kring' tadi?"
Ø
"Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak
anakku, 'Ibu, Bapak pulang', dan rasa letihku lenyap seketika," ujar Pak
Hamdan.
b.
Tanda petik tunggal mengapit makna,
terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing.
Contoh: feed-back
'balikan'
14. Tanda Garis Miring (/)
a.
Tanda garis miring
dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu
tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.
Contoh:
Contoh:
No. 7/PK/1973
Jalan Kramat III/10
tahun anggaran 1985/1986
b.
Tanda garis miring dipakai sebagai
pengganti kata tiap, per atau sebagai tanda bagi dalam pecahan
dan rumus matematika.
Contoh:
Ø harganya Rp125,00/lembar
(harganya Rp125,00 tiap lembar)
Ø kecepatannya
20 m/s (kecepatannya 20 meter per detik)
Ø 7/8 atau 7⁄8
Ø xn/n!
Tanda garis miring sebaiknya tidak dipakai
untuk menuliskan tanda aritmetika dasar dalam prosa. Gunakan tanda bagi
÷ .
Contoh: 10 ÷ 2 = 5.
Di dalam rumus
matematika yang lebih rumit, tanda garis miring atau garis pembagi dapat
dipakai.
Contoh:
.
c.
Tanda garis miring
sebaiknya tidak dipakai sebagai pengganti kata atau.
15. Tanda Penyingkat (Apostrof)(')
Tanda penyingkat menunjukkan
penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.
Contoh:
Contoh:
Ø Ali
'kan kusurati. ('kan = akan)
Ø Malam
'lah tiba. ('lah = telah)
Ø 1 Januari '88 ('88 =
1988)
Sebaiknya bentuk ini
tidak dipakai dalam teks prosa biasa.
BAB III
PENUTUP
Bagaimanapun juga penggunaan tanda baca yang baik &
benar sangat penting dalam menulis artikel. Bayangkan jika kita membaca sepuluh
paragraf tanpa titik atau koma, akan sangat membingungkan bukan? Apalagi ketika
kita hanya bisa mendengar dan dibacakan.
Tidak hanya untuk mendukung keterbacaan penggunaan tanda
baca yang benar sangat berpengaruh terhadap kualitas tipografi artikel
tersebut. Beberapa contoh tanda baca yang sering digunakan — tetapi tidak umum
seperti titik, koma, tanda seru & tanda Tanya.
Mungkin kita kurang mempedulikan
penggunaan tanda baca tersebut. Memang cukup merepotkan jika kita
mengimplementasikan pada tiap artikel, tetapi itulah seni dalam tipografi.
Tidak ada salahnya berusaha tampil “sempurna” dalam artian kita menggunakan
kaidah-kaidah penulisan secara benar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar